- 12:38 PM
- 1 Comments
aku tidak tahu, tepatnya kenapa ketika rumput-rumput hijau perlahan kering kecoklatan hingga ke akar-akarnya.
kemana perginya para teletubbies pemangkas rumput berseragam dan bersepatu kepala besi itu?
aku tidak tahu... kemana panggung - panggung untuk para masyarakat yang haus hiburan? bahkan pentas tradisional di hari kemerdekaan kita sendiri pun telah lenyap. kenapa banyak pendatang yang telah berpulangan ke kampung halaman mereka kembali, padahal, katanya mereka yang telah terlanjur mencintai desa kecil ini, bahkan bermimpi akan menetap di tanah ini? bantu aku memunguti serakan sampah di sepanjang pantai itu teman, sebab aku tak bisa melakukannya sendiri, aku butuh bantuan kalian kita sudah terlalu lama dimanja untuk tidak melakukan semuanya sendiri, ditanah kelahiran kita sendiri. pagi ini dingin sekali, tak seperti dingin sebelumnya, apakah karena semua orang di desa ini berwajah dingin? was-was akan keputusan tuan? khawatir akan kelanjutan nasib sekolah anak-anak mereka? dan aku dengar seorang teman yang diputuskan oleh kekasihnya karena dia berhenti bekerja, pacar macam apa itu?
apakah kau juga kedinginan wahai buaya?
hijau sarangmu ikut-ikutan berwarna coklat kering juga?
itukah alasanmu sering berjemur ke pantai, bu?
hmffff....baiklah...aku tidak akan banyak tanya lagi.
aku mau tidur, pesanku...
jaga baik-baik danau kita, jangan ditambah sampah lagi
jaga hijau pohon yang sudah kita miliki :)
- 9:02 AM
- 2 Comments
mereka adalah ibu perempuan, perempuan pertama dan perempuan kedua
telah cukup lama tinggal berpisah,
awalnya mereka adalah tiga perempuan yang tinggal dibawah satu atap
ketika perempuan pertama pergi dengan lelaki pilihannya, tingallah ibu perempuan dan perempuan kedua.
tak lama kemudian perempuan kedua juga pergi dengan lelaki pilihannya.
perempuan kedua tidak meninggalkan rumah, tetapi ibu perempuan bersedih
karena perempuan kedua seperti tidak ada dirumah menemaninya.
perempuan pertama datang dan inilah mereka...
3 perempuan yang sedang duduk bersama
bercerita tentang kain batik, baju kimono, dan makanan untuk para lelaki mereka
telah cukup lama tinggal berpisah,
awalnya mereka adalah tiga perempuan yang tinggal dibawah satu atap
ketika perempuan pertama pergi dengan lelaki pilihannya, tingallah ibu perempuan dan perempuan kedua.
tak lama kemudian perempuan kedua juga pergi dengan lelaki pilihannya.
perempuan kedua tidak meninggalkan rumah, tetapi ibu perempuan bersedih
karena perempuan kedua seperti tidak ada dirumah menemaninya.
perempuan pertama datang dan inilah mereka...
3 perempuan yang sedang duduk bersama
bercerita tentang kain batik, baju kimono, dan makanan untuk para lelaki mereka
- 3:26 PM
- 2 Comments
00:52
Apakah yang membuat ombak itu besar?
Adalah angin yang bertiup dari aut ke pantai terus ke kota kita
Jangan risaukan besarnya ombak saat kau berjuang,
Karena lewat gulungan ombaknya aku berdoa
Jika besok kau terbangun dari mimpi indahmu
Sapalah angin pantai yang bertiup
Dengarkan sapuannya di telingamu,
Dan sampaikanlah kabarmu lewat udara yang bergerak itu.
- 2:47 PM
- 0 Comments
Disini angin bertiup sangat kencang, rintik-rintik hujanpun turun dengan pasti
Aku terduduk diam disamping jendela, berkali-kali ranting itu menerpa kaca jendela.
Tadi pagi kau pamit padaku, sama seperti hari-hari sebelumnya, ada kosong bersama kepergiannmu
Tapi kerinduanlah yang buatku terus bertahan.
Terimakasih karena Kau karuniai perasaan rindu ini, dalam kesendirianlah aku belajar menjadi lebih tegar.
Hingga pada saat kau kembali untuk menceritakan hebatnya angin dipantai selama kau disana
Sama hebatnya dengan kerinduanku padamu,
Derasnya omabak yang menghantam tubuhmu, sederas air mataku yang mengalir bersama doa-doa yang kukirim untuk menjagamu.
- 2:46 PM
- 0 Comments
Buat Bronx yg lagi mengukur di takalar
Lelaki pesisir itu dating padaku
Dibawakanku segenggam pasir putih yang kemilau
Akupun tahu, apa arti segenggam pasir atau adakah harga yang pantas untuk menebus segenggam pasir itu?
Hari ini, aku bersam lelaki pesisir itu.
Kami berjalan diatas pasir metropolitan
Ber mil-mil jauhnya, tetapi tak sebutirpun kutemukan warnanya sama dengan pasir yang digenggamnya.
Konon, pasir putih itu adalah sisa-sisa keindahan pantai yan hilang karena rasa angkuh
Butir-butir pasir itu adalah tetesan peluh yang mengalir dari pori-pori kulitnya yang terbakar matahari karena merindukan kekasihnya kembali.
Esok, ijinkan aku membawa pulang kembali segenggam pasir putih itu. Entah kapan…
Sebab hanya di pantaimu keindahannya akan terus abadi hingga tak sejengkal tanah metropolitan ini menyentuh pasirmu…tidak pula dari tapak kakiku…
Lelaki pesisir itu dating padaku
Dibawakanku segenggam pasir putih yang kemilau
Akupun tahu, apa arti segenggam pasir atau adakah harga yang pantas untuk menebus segenggam pasir itu?
Hari ini, aku bersam lelaki pesisir itu.
Kami berjalan diatas pasir metropolitan
Ber mil-mil jauhnya, tetapi tak sebutirpun kutemukan warnanya sama dengan pasir yang digenggamnya.
Konon, pasir putih itu adalah sisa-sisa keindahan pantai yan hilang karena rasa angkuh
Butir-butir pasir itu adalah tetesan peluh yang mengalir dari pori-pori kulitnya yang terbakar matahari karena merindukan kekasihnya kembali.
Esok, ijinkan aku membawa pulang kembali segenggam pasir putih itu. Entah kapan…
Sebab hanya di pantaimu keindahannya akan terus abadi hingga tak sejengkal tanah metropolitan ini menyentuh pasirmu…tidak pula dari tapak kakiku…
- 2:44 PM
- 0 Comments
Kabari aku bila jiwamu telah kembali
Tapi pasti aku akan tetap mencintaimu
Sebab jiwaku ikut bersama jiwamu
Aku hanya merindukan jiwa kecil kita yang membuatku bangga menjadi kekasihmu.
Jangan ragu untuk kembali,
Karena aku selalu ada disini untuk kekasihku, seperti dulu
Aku mencintaimu apa adanya dirimu
Tapi pasti aku akan tetap mencintaimu
Sebab jiwaku ikut bersama jiwamu
Aku hanya merindukan jiwa kecil kita yang membuatku bangga menjadi kekasihmu.
Jangan ragu untuk kembali,
Karena aku selalu ada disini untuk kekasihku, seperti dulu
Aku mencintaimu apa adanya dirimu
- 2:42 PM
- 0 Comments